Orang sering bilang, “Terluka karena CINTA.”, “Buta karena CINTA.”, atau.. “Menderita karena CINTA.” Apakah sebenarnya mereka mengerti tentang definisi CINTA? Aku rasa tidak.
CINTA adalah anugerah terindah yang Tuhan karuniakan kepada hamba-hambanya, setelah nyawa dan kehidupan. CINTA bukanlah sebuah makhluk seperti manusia, binatang, dan tanaman. Bukan benda mati seperti batu, tanah, dan api. Bukan benda yang cahayanya dapat dilihat dengan mata telanjang seperti matahari, bulan, dan bintang. Bukan juga udara yang hembusannya mampu dirasakan kulit, seperti angin.
CINTA.. sulit menggambarkan wujudnya. Sulit melukiskannya dengan tinta warna sekali pun. Dalam filsafatnya, Kahlil Gibran mengatakan, “CINTA adalah bara api yang melalap hati manusia.” Tapi, bara api seperti apa yang mampu melalap hati manusia? Bukan bara api yang biasa kita lihat dengan mata telanjang ini. Sungguh bingung, bukan?
Maka dari itu, kita tidak berhak menyalahgunakan arti CINTA dalam setiap kejadian dalam hubungan asmara.
CINTA itu tidak bermata, tidak berlidah, tidak bertangan, juga tidak berkaki. Lalu, bagaimana mungkin, ia bisa menjadi buta, kalau mata saja tidak punya? Bagaimana mungkin dia bisa menyakiti? Bicara saja tidak bisa. Tangan dan kaki juga tidak punya.
CINTA itu ajaib, gaib, dan kasat mata. Tak dapat dilihat dengan sembarang mata. Tak mampu didengar dengan telinga terbuka sekali pun. Tak bisa dicium dengan hidung tak tersumbat. Juga tak dapat disentuh oleh jemari selentik apapun. Dan sangat sulit berpijak di bawah naungan CINTA, dengan kaki biasa. Repot, kan? Oleh karenanya, kita tidak pantas, bila selalu menyalahkan CINTA dalam setiap situasi buruk yang dialami.
CINTA tak mengenal dunia fana. ia begitu lembut dan halus. Begitu indah dan menakjubkan.
Tidak seperti NAFSU! Mereka jauh berbeda, meski sering berada di tempat yang sama, dalam waktu yang sama, dan di situasi yang sama. Yaitu hati dan pikiran manusia, setiap waktu, dalam situasi yang dibanjiri dengan asmara dan romantisme.
Sekali lagi, jangan menyalahkan CINTA. Jangan menghina CINTA, apalagi menginjak-injak harga diri CINTA. Karena, bukan dia yang menyebabkan berakhirnya sebuah hubungan asmara, menjadi hancur, retak, aau mungkin membawa penderitaan. Sungguh, itu bukan kesalahan CINTA. Karena, CINTA itu damai. CINTA itu membawa rasa aman.
Coba kau tanyakan pada dirimu. Apakah sudah benar memperlakukan CINTA sebagaimana mestinya, atau kau telah termakan oleh bujukan dan hasutan NAFSU? Coba dipikir lagi..
Ada yang tidak setuju? Coba, kita diskusikan, apa yang belum tersampaikan dalam tulisan di atas.